Tuesday, April 7, 2009

Yang Terbesar, Yang Melayani

Jelang Paskah 2009 dan jelang Pemilu Legislatif 2009

Masih terbersit kalimat-kalimat Tuhan Yesus yang dicatat Markus, bahwa Ia datang untuk melayani dan memberikan nyawaNya bagi tebusan banyak orang. Sebelum mengucapkan kalimat-kalimat ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada para muridNya, siapapun yang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan dari semua.

Tuhan tidak asal mengucapkan kalimat-kalimat indah menjelang kematianNya di atas kayu salib. Tuhan juga tidak sekedar mengajarkan sesuatu ajaran demi untuk menyatakan suatu ajaran yang berbeda dengan dunia, karena Ia Tuhan dan bukan manusia.

Apa yang dinyatakan Tuhan Yesus adalah sebuah realita indah yang seringkali menjadi mimpi manusia. Manusia ingin jadi besar, ingin berkuasa, ingin memimpin. Namun manusia tidak mengerti bahwa kebesaran, kekuasaan dan kemimpinan adalah sebuah pelayanan. Karena itu Tuhan mengatakan: tentu, boleh saja, asal sedia jadi pelayan semua. Apakah ini sebuah ironi? Sebuah kontradiksi? Tidak sama sekali!

Mereka yang layak menjadi besar, yang layak menjadi penguasa, yang layak menjadi pemimpin, memang seharusnya menjadi pelayan semua. Menjadi besar berarti menjadi berkat bagi semua. Bukankah kebesaran seseorang dinilai dari berapa besar yang dia sudah kerjakan bagi banyak orang? Menjadi penguasa berarti diberi hak untuk mengusahakan kesejahteraan yang sebesar-besarnya. Bukankah penguasa dinilai dari berapa besar kuasanya digunakan untuk membuat orang banyak bersukacita dan mengalami sejahtera? Menjadi pemimpin berarti berkesempatan untuk memberikan teladan terindah. Bukankah pemimpin dihormati karena hidupnya dikorbankan untuk mengarahkan orang banyak kepada bijaksana kebenaran melalui contoh yang dinyatakan dalam setiap tindakannya?

Menjadi terbesar berarti menjadi pelayan bagi semua bukan ironi, bukan kontradiksi apalagi basa basi. Menjadi pelayan bagi semua adalah bukti kebesaran dan keagungan diri. Sang Khalik yang datang menjadi manusia menyatakan pengajaranNya ini dalam kehidupanNya yang menggenapi seluruh ucapanNya sendiri.

Besok Pemilu Legislatif akan diselenggarakan. Segenap rakyat berharap bahwa ada pemimpin sejati. Tapi sekali lagi, jangan mimpi hal itu dapat terjadi. Hanya mereka yang mau belajar pada Pemimpin Sejati, Sang Khalik Langit dan Bumi, yang dapat memenuhi aspirasi rakyat ini.
Namun apakah keadaan Indonesia saat ini kemudian membuat kita putus asa dan membawa kepada penyesalan diri karena terlahir sebagai putra bangsa?

Saat menjelang Pemilu Legislatif, adalah saat di mana pula kita mempersiapkan hati, mengenang kembali bagaimana Sang Khalik menunjukkan diri sebagai Pemimpin Sejati. Ia telah menggenapi perkataanNya dengan perbuatan indah tak terkira: memberikan hidupNya untuk menebus kita yang ditawan oleh kebengisan dosa. Bahkan lebih dari itu, Ia bangkit dari antara orang mati, untuk memberikan kita kuasa menjadi pemimpin-pemimpin sejati, menjadi pelayan-pelayan Tuhan dan sesama.

Mari kita sekali lagi datang di bawah kakiNya. Mengakui hanya Dia pemimpin sejati. Meminta Dia membangkitkan pemimpin-pemimpin sejati bagi negeri, karena hanya Dia yang dapat melakukannya.

Soli Deo Gloria.