Friday, November 29, 2013

HARTA WARISAN YANG INDAH



Ada sebuah ‘teka-teki’ yang bunyinya begini: Apakah yang lebih berharga daripada emas, bahkan daripada banyak emas murni; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah?*
Kalau saya mengajukan ‘teka-teki’ di atas, apakah jawabanmu? Mungkin setiap kita dapat menjawab sesuai dengan apa yang kita rasakan. Tetapi memberi jawaban yang benar? ‘Teka-teki’ di atas adalah ungkapan hati yang indah dari Daud ketika ia menggambarkan hukum Tuhan, ketetapan Tuhan, Firman Tuhan. Berapa banyak dari kita yang berbagian dan mengalami apa yang Daud katakan?
Emas adalah sesuatu yang berharga dan dijadikan patokan dalam ekonomi dunia. Sedang emas murni atau emas tua adalah emas terbaik yang bernilai tinggi yang banyak diburu orang. Untuk mendapatkan emas orang harus berusaha keras dan berjerih lelah. Berapa banyak orang percaya yang mengejar kebenaran Firman Tuhan seperti memburu emas? Berapa banyak orang tebusan yang menganggap Firman Tuhan lebih berharga dari emas bahkan banyak emas tua?
Madu adalah sesuatu yang manis, bergizi tinggi dan tidak menyebabkan diabetes. Rasanya yang manis membuatnya disukai banyak orang. Tetapi madu terbaik tentu saja madu yang menetes dari sarang lebah, murni, tanpa campuran dan alami. Untuk memperoleh madu seperti ini dibutuhkan kerja keras dan usaha yang besar. Berapa banyak orang yang mengaku Kristen merasakan Firman Tuhan lebih manis dari tetesan madu terbaik? Berapa banyak orang tebusan yang berusaha keras untuk mendapatkan Firman Tuhan yang memiliki khasiat yang lebih baik dari madu hutan?
Dengan sangat yakin saya akan menjawabnya sendiri: Sedikit sekali. Sedikit sekali orang percaya yang menilai Firman Tuhan seperti atau lebih dari emas tua, seperti sama sedikitnya orang Kristen yang merasakan Firman Tuhan lebih dari madu yang menetes dari sarang lebah sehingga ingin terus mencicipinya. Inilah keunikan Daud. Dengan posisinya sebagai raja dari umat pilihan Tuhan, ia memiliki banyak harta dan hak istimewa. Tetapi baginya, tidak ada yang lebih bernilai dan memberi manfaat melebihi Firman Tuhan.
Apakah Firman Tuhan itu? Firman Tuhan adalah segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah yang tertulis di dalam Kitab Suci (2 Tim 3:16-17). Seluruh Firman Tuhan yang tertulis dinyatakan dalam Alkitab. Adakah Firman Tuhan yang tidak tertulis? Ada. Di mana? Tidak tahu dan tidak perlu tahu (Ul 29:29). Firman Tuhan yang perlu kita ketahui semua sudah tertulis di dalam Alkitab.
Dengan demikian Alkitab menjadi hal yang sentral dalam kehidupan orang percaya karena Allah berbicara kepada kita melaluinya. Itu sebabnya pemberitaan Firman melalui kotbah harus menjadi titik berat ibadah Minggu dan mempelajari Firman Tuhan setiap hari merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan seorang Kristen. Jika kita berbicara kepada Tuhan melalui doa, maka Tuhan berbicara kepada kita melalui firmanNya yang tertulis dalam Alkitab. Roh Kudus bekerja melalui perantaraan Firman, karena iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan.
Westminster Shorter Catechism mengatakan tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan dan menikmati Allah selamanya. Kita sebagai manusia ciptaan tidak mungkin dapat mengetahui bagaimana memuliakan dan menyenangkan Allah jika bukan Allah sendiri yang memberitahukan kepada kita. Maka Allah yang Maha Besar perlu memberitahu kita bagaimana kita dapat memuliakan Dia. Apa yang Ia ingin kita lakukan yang menyenangkan hatiNya. Apa yang harus kita hindari dan tidak lakukan untuk menyukakanNya. Melalui pembelajaran Kitab Suci kita tahu bagaimana melakukan semua hal itu.
Di atas telah disinggung bahwa sedikit sekali orang percaya yang mencintai dan bertekun dalam kebenaran Firman Tuhan. Ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam kekristenan, ketika orang Kristen tidak sungguh mencintai dan menikmati Firman Tuhan.
Jika kita membalik sejarah kekristenan, kita akan melihat skandal serupa ini pernah terjadi. Sekitar abad pertengahan ketika orang Kristen menjadi ‘tidak melek’ Alkitab, terjadi kekacauan dan kesimpangsiuran dalam iman Kristen. Puji syukur, Tuhan tidak membiarkan gerejaNya menyimpang terlalu jauh. Gerakan Reformasi dipakai untuk membawa gereja kembali kepada kebenaran Firman Tuhan, Back to the Bible atau Sola Scriptura.  Inilah salah satu slogan Reformasi yang diteriakkan dengan keras pada masa itu. Namun kelihatannya manusia, termasuk orang Kristen, tidak terlalu suka belajar dari sejarah. Gejala gereja dewasa ini mulai melakukan penyimpangan terhadap Kitab Suci mulai jelas kelihatan. Orang percaya harus waspada terhadap hal ini dan melakukan tindakan pencegahan. Bagaimana caranya? Dengan baik-baik mempelajari Firman Tuhan, memohon belas kasihan Roh Kudus untuk menerangi hati kita dan bersikap ‘kritis’ terhadap pemberitaan Firman Tuhan sekalipun yang memberitakan adalah hamba Tuhan sendiri (Lihat Kis 17:11 dan Gal 1: 8-10). 
Mengapa Alkitab tidak boleh dipermainkan atau diselewengkan? Karena Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis. Dikatakan dalam 2 Tim 3:16-17 ‘apa yang tertulis di dalam Kitab Suci diilhamkan oleh Allah’. Dalam bahasa aslinya (Yunani) diilhamkan berarti ‘God breathed’ atau dinafaskan oleh Allah, sehingga apa yang tertulis dalam Kitab Suci adalah hasil karya Allah sendiri. Memang Allah memakai banyak manusia dari zaman dan kalangan yang berbeda – mulai dari bekas pangeran, raja, petani, nelayan, dokter sampai pemungut cukai – untuk menuliskan Alkitab, tetapi mereka semua digerakkan oleh Roh Kudus (2 Pet 1:20-21). Maka Alkitab dengan sendirinya tidak mungkin salah (infallible) karena Allah tidak pernah bersalah dan melakukan kesalahan.
Semua hal yang Allah ingin katakan pada kita ada tertulis dalam Alkitab sehingga Alkitab disebut cukup atau sufficient. Apa artinya Alkitab cukup? Pertama, Alkitab cukup dalam mengatakan semua hal yang Allah kehendaki bagi kita. Kedua, Alkitab cukup dalam memimpin kita kepada keselamatan yang ada di dalam Kristus dan bertumbuh mengenal Allah. Ketiga, Alkitab cukup berarti tidak perlu ditambah atau dikurangi (Ul 4:2). Menambah atau mengurangi isi Kitab Suci menjadi suatu penghinaan terhadap Allah yang sempurna. Apalagi menyelewengkan dan menggunakan isi Alkitab dengan semena-mena resikonya besar sekali karena Allah sendiri yang akan menjadi lawan mereka yang melakukan hal demikian (Yer 23:31-32).
Semasa Sekolah Minggu, saya mendengar cerita tentang doa Salomo yang meminta hikmat dari Tuhan. Karena begitu terkesan, sayapun menginginkan hal yang sama. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini, kecintaan Daud yang begitu dalam akan firman Tuhan menjadi obsesi baru saya. Mengapa Daud disebut sebagai orang yang berkenan kepada Allah, a man before God’s own heart? Karena ia mengerti isi hati Tuhan lebih dari yang lain. Bagaimana bisa mengerti isi hati Tuhan? Dengan bertekun menyelidiki Kitab Suci dan merenungkannya.
Dalam Mazmur 119 Daud mengatakan ada tiga manfaat penting dari perintah-perintah Tuhan yakni membuat diri lebih bijaksana dari musuh, lebih berakal budi dari semua pengajar dan lebih mengerti dari orang tua (ayat 98-100). Namun sayang sekali banyak orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran ini dan menikmati anugrah ini. Mempelajari Firman Tuhan memang bukan hal yang gampang. Kita harus bertekun menelitinya bahkan seringkali harus bergumul dengan kebenaran Firman Tuhan. Rasul Paulus mengatakan bahwa Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Berapa banyak orang yang suka untuk diajar, diberitahu kesalahannya, diperbaiki kelakuannya dan dididik dalam kebenaran? Ini hal yang sulit dan berat untuk diterima, tetapi memberi faedah yang luar biasa: tahu bagaimana memiliki hidup yang menyenangkan Tuhan yang telah mencipta dan menebus kita.
Semasa hidupnya (alm) ayah saya memberikan pada saya dan keempat adik saya masing-masing sebuah Alkitab yang diberi catatan pribadi. Karena sakit parah dan koma selama 8 bulan, ayah saya tidak meninggalkan harta yang banyak kecuali sebuah rumah untuk berteduh. Namun ia meninggalkan sebuah warisan yang tidak ternilai yang tidak dapat layu, rusak atau dicuri: Kitab Suci. Saya sangat bersyukur untuk warisan ini, suatu harta warisan yang indah dan tak ternilai.
Apa yang menjadi hartamu? Apa yang engkau hargai melebihi emas tua? Apa yang kau sukai dan nikmati melebihi madu yang menetes dari sarang lebah?
Jika benar engkau mencintai Firman Tuhan melebihi emas tua dan merasakannya lebih nikmat dari madu Tuhan, pertanyaan berikutnya adalah apakah engkau telah membaca Kitab Suci dari Kejadian sampai Wahyu? Seberapa sungguh dan teliti engkau membacanya? Berapa banyak Firman yang telah engkau renungkan siang dan malam? Dan akhirnya yang terpenting adalah berapa besar usaha kita untuk menaatinya?
Untuk mendapatkan emas tua atau madu hutan manusia harus berjerih lelah. Namun emas tidak dapat dibawa mati dan madu hutan hanya diperlukan selama hidup. Tetapi Firman Tuhan membawa kita pada kekekalan. Berjanjilah pada Tuhan mulai hari ini akan bertekun mempelajari FirmanNya.
Kiranya Tuhan menolong kita. Soli Deo Glori.

*(Maz 19:11 terjemahan bebas dari NIV)

Wednesday, August 28, 2013

RENAISSANCE



RENAISSANCE
Renaisans atau kelahiran kembali (rebirth) adalah sebuah periode yang membawa Eropa kepada kebangkitan kebudayaan setelah mengalami masa stagnasi. Sebuah pendapat, mengaitkan kemunculan Renaisans dengan kejatuhan Konstantinopel tahun 1453. Sejak keruntuhan Romawi Barat, Konstantinopel menjadi pusat kebudayaan Kristen. Tetapi waktu Turki Ottoman merebut kota ini, banyak ilmuwan dan ahli-ahli Grika yang mengungsi ke Eropa khususnya Italia. Mereka melarikan diri karena ingin menyelamatkan manuskrip klasik mereka yang berharga itu.
Untuk dapat bertahan hidup dalam pengungsian, mereka mengajarkan teori-teori klasik kepada ilmuwan Eropa sekalgus membagikan kemampuan berbahasa Yunani. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa untuk kemudian kembali kepada teks-teks kuno tersebut.
Tentu saja peristiwa di atas tidak cukup untuk mendorong munculnya gerakan kebudayaan Renaisans. Kejenuhan kepada konteks Abad Pertengahan menjadi pendorong utama masyarakat Eropa masuk ke dalam Renaisans. Apa yang menjadi penyebab kejenuhan Masa itu? Penekanan sisi kehidupan hanya pada satu aspek. Yesus Kristus menjanjikan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10b). Gereja Abad Pertengahan membatasi hidup kekristenan dan masyarakat umum kepada satu aspek yang sempit, yaitu nasib di akhirat. Itupun dalam pengajaran dan pengertian yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Manusia Abad Pertengahan ditarik untuk mengabaikan kemanusiaan mereka.
Tidaklah mengherankan jika kehadiran Renaisans mendapat sambutan luar biasa. Karena salah satu esensi dari semangat Renaisans adalah pandangan bahwa manusia tidak hanya memikirkan hidup di dunia yang akan datang, tetapi juga harus memikirkan hidup di dunia yang sekarang ini. Renaisans menjadi titik awal dari kemunculan peradaban Eropa yang modern.
Semangat humanisme menjadi dasar gerakan Renaisans. Hal ini terlihat dalam pengajaran filsafat masa ini, dalam karya literatur yang diterbitkan, dalam karya seni dan arsitektur yang dibuat, bahkan dalam sistem sosial-politik yang dibangun. Manusia seperti menemukan kembali dirinya dalam semangat Renaisans. Benarkah demikian?
Bapak Gereja, Agustinus mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk Sang Pencipta. Jika tidak kembali kepada tujuan sang Pencipta, maka jiwa manusia akan terus ada dalam kegelisahan yang tak berkeputusan. Tokoh reformator, John Calvin, melontarkan satu prinsip hidup yang penting: Duplex Cognito Dei. Mengenal Allah, mengenal diri. Dengan mengenal Allah, kita mengenal diri kita. Inilah hidup yang utuh. Hidup yang sesungguhnya.
Sejarah Abad Pertengahan menunjukkan kegagalan memanusiakan manusia. Sejarah Renaisans yang membuat manusia menemukan kemampuan dirinya, gagal membuat manusia mengenali Sang Pencipta yang telah menjadikannya. Kembali kepada Kitab Suci, Sola Scriptura, salah satu slogan Reformasi, membawa manusia menjadi manusia sejati ketika kembali kepada Sang Pencipta.
Ke mana orientasi hidup yang sekarang sedang pembaca jalani? Seperti semangat Abad Pertengahan? Renaisans? Atau Reformasi? 

(Dimuat di Pillar, Juni 2013)

Friday, August 23, 2013

40 Years of Silence



40 Years of Silence
“Those who don’t remember the past are condemned to repeat it”, demikian kalimat pembuka Robert Lemelson, sang sutradara film 40 Years of Silence, an Indonesian Tragedy dalam situs resmi film ini. Ucapan di atas adalah ungkapan dari George Santyana yang dikutip oleh Lemelson sebagai penanda dari tujuan pembuatan film tersebut. Anda tentu bertanya-tanya tentang apakah film tersebut, meski dari judulnya sendiri sedikit banyak kita dapat memperkirakannya.
Lemelson, antropolog Amerika, membuat 40 Years of Silence sebagai sebuah film dokumenter yang ingin menyibakkan satu bagian tergelap dari sejarah modern Indonesia, Peristiwa G30S. Peristiwa ini adalah salah satu pembunuhan massal abad ke-20 yang masih belum terungkap. Diperkirakan sekitar 500.000 sampai 1.000.000 orang dibunuh secara diam-diam dan sistematis dalam tahun 1965-1966 karena dicurigai sebagai komunis di seluruh Indonesia.
Film sejarah yang berbentuk narasi ini menceritakan kesaksian dari pihak korban. Lemelson sangat piawai dalam melakukan penggalian saksi sejarah tentang perasaan,  jiwa serta tekanan-tekanan batin yang mereka alami. Lewat narasi yang dituturkan, apa yang selama ini disembunyikan, diabaikan dan ditindas oleh sejarah mainstream, menyeruak ke permukaan. Pergulatan dan luka batin yang dirasakan para korban stigma komunis digali sang sutradara dengan sangat baik lewat wawancara yang tampak sederhana tapi mendalam dan tajam. Maka apa yang tampil nyata adalah ekspresi para korban yang melampui kalimat-kalimat yang dapat mereka ucapkan. Kita yang menontonnya pun akan terhenyak. Betapa kejamnya mereka yang menindas kebenaran!
Seorang mahasiswa sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Agus Budi Purwaranto mengulas film ini dengan sangat baik. Ia berpendapat bahwa kehadiran film ini adalah pertama-tama untuk membuat sejarah menjadi “wajar.” Langkah berikutnya tentu saja adalah melakukan usaha rekonsiliasi bangsa. Mirip dengan kutipan Lemelson atas ucapan Santyana di atas. Entah mengapa semua ini mengingatkan pada kalimat-kalimat rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Silahkan membuka Efesus 2:1-10.
Dalam perikop tersebut Paulus mengajak jemaat Efesus melihat masa lalu mereka, sejarah hidup mereka sebelum berada dalam Kristus dan kemudian membandingkannya dengan sesudah berada Kristus. Sejarah hidup jemaat Efesus awalnya seperti zombie yang dikuasai oleh tiga kekuatan jahat. Bahkan ‘hidup’ mereka terpuruk dalam kenistaan yang dalam, menjadi obyek murka Allah. Jikalau Anda menonton film tadi, anda akan melihat bukan hanya para korban tetapi juga anak-anak mereka ikut menjadi obyek murka penguasa bahkan masyarakat umum yang menelan mentah-mentah stigma eks-tahanan politik (ET).
Kita adalah orang-orang yang sangat beruntung bahkan terlalu beruntung. Sejarah hidup kita yang begitu kelam dan semua stigma yang buruk akibat dosa-dosa kita telah dipakukan di salib Kristus. Lewat penderitaan dan kematian Kristus, keadilan Tuhan ditegakkan dan relasi kita dengan Allah dipulihkan. Kristus merekonsiliasi kita dengan Bapa. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukannya untuk para ET? Bukankah kita dipanggil sebagai alat rekonsiliasi Kristus?

Thursday, August 1, 2013

Jadi Orang!



Jadi Orang!
Pernah mendengar orang tua zaman dulu berkata: “Kamu nanti harus jadi orang!” Anak yang berani dan usil akan mempertanyakan pernyataan itu: “Maksudnya sekarang ini saya bukan orang? Sejenis kera begitu?” Anak yang takut dianggap durhaka dan bersikap pasif, tentu saja hanya bisa menguji pernyataan itu dalam batin saja. Tetapi secara umum kebanyakan diantara kita mengerti apa yang dimaksudkan.
Ada semacam keyakinan umum bahwa seseorang dianggap sudah menjadi orang sungguhan jikalau ia sudah mendapatkan sebuah pencapaian tertentu. Di era sebelum baby boomers, konsep ‘menjadi orang’ memiliki sedikit perbedaan dengan zaman media digital dewasa ini. Pada masa itu pencapaian seseorang tidak selalu diukur dengan uang. Dedikasi terhadap sebuah pekerjaan yang melayani kebutuhan dasar masyarakat juga dihargai tinggi. Sekarang ini ‘menjadi orang’ berarti dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, ditambah kebutuhan sekunder dan tertier. Dengan kata lain, tolak ukur ‘menjadi orang’ adalah uang!
Saat saya kuliah, salah satu hal yang diajarkan dalam Pancasila adalah menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. Sayangnya, frase ini diajarkan tanpa pemahaman yang jelas karena konsep itu memang tidak pernah tuntas dipelajari oleh para pengatur negeri ini.
Harapan orang tua zaman dulu yang mengharapkan anaknya jadi orang, tentu saja tidak sepenuhnya salah. Karena menjadi orang memang merupakan panggilan dasar hidup kita. Bukankah Adam jatuh dalam dosa karena gagal menjadi orang?
Menurut Alkitab yang adalah firman Tuhan (yang tidak mungkin salah dan tidak bisa salah), manusia adalah gambar Allah (image of God). Maka, menjadi manusia berarti menyatakan segala kebaikan karakter Allah dalam berbagai ekspresi serta keunikan yang kita miliki. Sayangnya, di dalam Adam, kita semua gagal menjadi orang! Kita semua ingin menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita menolak hakekat sejati kita, yakni menjadi orang. Kita menolak diri kita sendiri dan sudah tentu di atas segalanya, kita menolak Pencipta kita karena kita adalah gambar-Nya.
Hanya karena anugerah, titik. Maksudnya? Maksudnya adalah tidak akan pernah dapat dipahami mengapa Yesus Kristus mau menjadi manusia. Mengapa Ia mau mati menanggung dosa saudara dan saya. Mengapa Dia mau menjadi gambar dan rupa Allah yang sejati. Dan sejumlah mengapa yang lain masih dapat kita tambahkan. Tetapi satu hal yang patut kita pertimbangkan dengan serius adalah menjadi orang merupakan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Karena menjadi orang berarti saudara dan saya belajar hidup seperti Yesus Kristus. Untuk dapat belajar hidup seperti Yesus Kristus, saudara dan saya perlu dilahirkan kembali, menjadi manusia yang sebenarnya. Kita sudah pernah gagal menjadi manusia. Hanya di dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru, menjadi mahakarya Allah, menjadi gambar-Nya, menjadi manusia.
Apakah Anda sudah menjadi orang? Kalau iya, apakah seluruh hidup saudara diletakkan di bawah ke-Tuhan-an Yesus Kristus? Apakah setiap keputusan atas setiap aspek kehidupan saudara setiap harinya sesuai dengan firman Yesus Kristus? Belajarlah menjadi orang!

Dimuat di Pillar, Juli 2013