Saturday, October 17, 2009

Teacher's Prayer


Dear God,
Help me to see each of my children as uncut diamonds;
needing only enough pressure to knock off the rough edges
so that the brilliance You have placed in each of their hearts
will always shine through.

It is God who works in you to will and to act according to His good purpose (Philippians 2:13).

Sebelum menjadi guru, saya menemukan doa di atas tertulis di sebuah batasan buku. Saya pikir, alangkah indah doa ini, lalu saya beli dan selipkan di antara Alkitab saya. Ternyata hari ini saya telah menjadi seorang guru dan doa di atas menjadi bagian dari doaku.

Doa yang indah tersebut adalah doa yang sangat sulit. Paling tidak ada beberapa kesulitan yaitu: Bagaimana melihat setiap anak adalah 'uncut diamonds' ketika mendapati seorang anak tidak suka belajar, sulit berkonsentrasi, pikirannya sering menerawang, sering ribut di kelas dan mengganggu jalannya pelajaran. Tidak hanya itu nilainya buruk meski sudah ada 'remedial' dan seterusnya. Untuk melihat setiap anak yang memiliki sejumlah masalah sebagai 'uncut diamond's seorang guru hanya bisa berharap kepada pertolongan Gurunya yang agung, Allah Tritunggal.

Menjadi seorang guru membutuhkan iman, pengharapan dan kasih. Bagaimana terus percaya adanya anugrah Tuhan atas setiap anak. Bagaimana terus memiliki pengharapan melihat anak yang bermasalah. Dan kemudian bagaimana terus memiliki cinta kasih kepada anak yang sering tidak menghargai gurunya.

Hal kedua yangg dihadapi dari doa indah di atas adalah bagaimana memberi tekanan yang cukup kepada seorang anak agar keindahan yang Tuhan berikan di dalam dirinya boleh terpancar keluar. Memberi tekanan adalah suatu pekerjaan yang tidak enak. Seorang guru bisa menjadi tidak populer dan dicap sebagai guru galak bahkan kejam. Memberi tekanan pada seorang murud juga menjadi tekanan dalam hati seorang guru yang mengasihi muridnya. Karena jauh di dalam hatinya ia tidak tega melakukannya, tapi harus melakukannya demi keindahan Tuhan dinyatakan.

Dalam memberi tekanan yang cukup juga mengandung kesulitan lain yaitu bagaimana membedakan tekanan yang cukup untuk seorang anak yang satu dengan anak yang lain. Tiap anak memiliki 'rough edges'nya sendiri. Seorang guru harus memiliki kepekaan dalam mengenali tiap anak untuk dapat memberi tekanan yang cukup dalam mengasah anak tersebut. Kepada yang seorang harus diberi tekanan yang lebih keras, sedang kepada yang lain lebih lembut. Bagaimana dapat membedakannya? Melalui relasi dengan Tuhan dan hidup yang bersandar pada pertolongan Allah Roh Kudus.

Masalah lain adalah tidak hanya seberapa besar tekanan yang harus diberikan tetapi juga berapa lama waktu yang harus diberikan. Tiap anak seperti halnya berlian memerlukan waktu yang berbeda dalam proses pengasahannya. Ada anak yang memerlukan waktu lama, ada yang hanya sebentar. Di sini guru dituntut kesabarannya sekaligus kasihnya akan tiap anak. Seorang guru dapat terjebak dalam aspek ini karena secara alami akan lebih mengasihi mereka yang cepat diasah. Sebab itu sekali lagi, anugrah dan kekuatan dari Tuhan sangat diperlukan untuk menghindari keberpihakan yang terlalu tajam.

Sebagai manusia, seorang guru pasti tidak bisa menghindari satu kecenderungan untuk mengasihi seorang anak lebih dari yang lain. Tetapi membuat kecenderungan ini tidak terlalu kelihatan menjadi tugas seorang guru karena menyadari bahwa tiap anak adalah berlian yang belum diasah. Tiap anak memerlukan tekanan yang berbeda dan waktu yang berbeda untuk boleh menjadi berlian cemerlang.

Akhirnya seorang guru menyadari bahwa dia adalah juga seorang murid. Murid dari sang Guru Agung yaitu Tuhan Yesus. Dalam panggilannya sebagai guru, seorang guru harus terus belajar di bawah kaki sang Guru, Tuhan yang menjadi manusia. Meminta kekuatan dariNya. Meminta hikmat dariNya. Meminta lebih banyak iman, kasih dan pengharapan dariNya. Karena tugas seorang guru adalah panggilan mulia, panggilan yang dimulai oleh Tuhan dan digenapi oleh Tuhan. Itu sebabnya ketika seorang anak telah menjadi berlian yang diasah yang memancarkan keindahannya, tidak ada seorang gurupun yang berhal mengklaim jasanya. Seorang guru hanya dapat mengatakan: "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan" (Lukas 17:10).

Siapkah anda menjadi seorang guru? Kiranya Tuhan dipermuliakan.

MARRIAGE - A Brief Reflection


-->
Mulanya, Tuhan menjadikan segala sesuatu indah dan baik adanya.
Bahkan perkawinan adalah rancangan Tuhan, anugrah Tuhan bagi manusia melakukan mandat Tuhan. Sebuah lembaga yang ditegakkan Tuhan sebelum kejatuhan manusia dalam dosa.

Kejatuhan manusia dalam dosa merusak lembaga perkawinan. Memporak-porandakan keindahan perkawinan. Menyelewengkan makna perkawinan. Manusia tidak lagi menikah untuk menggenapi rencana Tuhan. Manusia tidak lagi menikah untuk melakukan mandat Tuhan. Manusia menikah demi status. Manusia menikah demi uang. Manusia menikah demi mendapat sekuritas. Manusia menikah untuk melampiaskan nafsu biologisnya secara sah. Manusia menikah untuk alasan yang salah!

Puji Tuhan, melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus, pernikahan juga mendapatkan harkatnya kembali. Di dalam Kristus hakekat pernikahan mengalami pemulihan. Tapi inipun bukan sesuatu yang dapat diterima dengan begitu saja (take it for granted). Mereka yang di dalam Kristus lewat anugrah Tuhan dan kekuatan penghiburan Allah Roh Kudus, harus berjuang untuk itu. Berjuang menjadikan pernikahan mereka sebagai penggenapan rencana Tuhan. Bekerja keras menjadikan pernikahan mereka sebagai sarana kemuliaan Tuhan. Semua itu dimulai dengan SALIB. Salib adalah tempat di mana Tuhan mau mati. Salib adalah tempat di mana penyangkalan diri Tuhan genap sepenuhnya. Ravi Zacharias mengatakan TIDAK ADA KEMATIAN, TIDAK ADA KEBANGKITAN. PERKAWINAN KRISTEN DIMULAI DENGAN SALIB. Jika tidak siap mati untuk diri dan menyangkal diri seperti Tuhan Yesus, bersiaplah untuk tidak mengalami kebangkitan dalam pernikahan. NO CROSS, NO GLORY.

Dalam kehidupanku, aku melihat pernikahan yang disebut Kristen yang mengalami kesulitan dan penderitaan YANG TIDAK SEHARUSNYA. Dalam pernikahan penderitaan dan kesulitan pasti tidak terhindarkan. Namun ada juga kesulitan dan penderitaan yang tidak seharusnya. Penderitaan yang timbul karena menikah dengan alasan yang salah, untuk tujuan yang tidak alkitabiah.

Salah seorang sepupu yang meninggal minggu yang lalu dalam usia 55 tahun adalah seorang perempuan tercantik yang saya tahu. Dia juga seorang yang penurut dan bertingkah laku manis. Menikah dengan seorang pria yang dikenalkan keluarga (keluarga yang saling mengenal katanya). Ternyata kemudian mengalami KDRT. Bahkan si suami kemudian menikah lagi karena sepupuku hanya bisa memberi 3 anak perempuan. Si pria kemudian menikah lagi sesuai anjuran ibunya untuk mendapat anak laki-laki tanpa menceraikan istrinya. Setelah 32 tahun hidup pernikahan yang penuh cucuran airmata, Tuhan memanggil seppupuku tercinta. Meninggalkan anak perempuan yang memiliki luka dalam di hatinya karena membenci sang ayah yang semena-semena terhadap ibunya.

Seorang pamanku menikahi seorang perempuan cantik yang memberi seorang anak perempuan. Sang isteri kemudian menggerogoti seluruh keuangan pamanku dengan berhutang di mana-mana. Pamanku yang tadinya seorang yang cukup dikenal dalam dunia pendidikan perbankan dan cukup berada, di masa tuanya tidak hanya ditinggal mati sang istri, tapi juga ditinggali seorang putri yang persis ibunya dalam soal pemakaian uang. Sekarang pamanku tidak punya apa-apa, termasuk keturunan (cucu).

Contoh lain, tanteku yang sangat cantik, seperti Grace Kelly mendapat suami yang melakukan KDRT sampai mereka harus berpisah. Puji Tuhan ketika sang suami bertobat. Tuhan memulihkan rumah tangga mereka. Namun sebelum sempat berkumpul kembali, sang suami dipanggil Tuhan secara mendadak. Tapi inipun tetap indah karena seluruh keluarga mengkhawatirkan apakah jika mereka sudah sepenuhnya berkumpul dalam satu rumah di satu kota, tidak akan terjadi KDRT lagi. Sayang sekali, sedikit cerita pernikahan dengan KDRT yang berakhir seperti ini.

Daftar kegagalan-kegagalan ini bisa saya perpanjang lagi. Termasuk kegagalan teman-teman seumur saya yang sama-sama Kristen sama-sama Batak kemudian bercerai. Bahkan saya membaca tentang pernikahan tokoh-tokoh besar Kristen yang mengalami kesulitan dalam pernikahannya, yang mempertahankan pernikahan itu semata-mata karena bercerai itu aib.

Perhatikanlah dengan baik, bahwa kehidupan pernikahan Kristen tidak kebal dari kesulitan, penderitaan dan masalah. Sepatutnya kita memiliki keseriusan akan makna pernikahan Kristen. Sewajarnya kita menilai tinggi arti pernikahan Kristen. Sayang banyak orang Kristen menganggap gampang pernikahan sampai pernikahan mereka mereka di bawah ancaman perceraian.

Bagi saya pribadi, saya menjunjung tinggi kalimat rasul Paulus dalam surat Efesus 5:32 mengenai pernikahan Kristen yang berbunyi: RAHASIA ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah HUBUNGAN KRISTUS DAN JEMAAT. Pernikahan Kristen adalah simbol dari relasi Kristus sebagai Kepala Gereja dengan Jemaat yang adalah Tubuh Kristus. Selayaknya dalam pernilkahan Kristen, Kristus dimuliakan. Semua ini dimulai dengan sungguh-sungguh mengenal Kristus dan FirmanNya. Kemudian tunduk kepada FirmanNya dengan menaati dan melakukannya. Ini memang tidak mudah. Tapi semua kesulitan bisa diatasi karena ada anugrah yang cukup, ada penyertaan Allah Roh Kudus dan ada Tuhan Yesus yang menjadi juru syafaat kita, yang berdoa untuk kita.

Kiranya pernikahan Kristen di mana pun juga diteguhkan oleh Roh Kudus demi kemuliaan Kristus.

Soli Deo Gloria.

Tuesday, April 7, 2009

Yang Terbesar, Yang Melayani

Jelang Paskah 2009 dan jelang Pemilu Legislatif 2009

Masih terbersit kalimat-kalimat Tuhan Yesus yang dicatat Markus, bahwa Ia datang untuk melayani dan memberikan nyawaNya bagi tebusan banyak orang. Sebelum mengucapkan kalimat-kalimat ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada para muridNya, siapapun yang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan dari semua.

Tuhan tidak asal mengucapkan kalimat-kalimat indah menjelang kematianNya di atas kayu salib. Tuhan juga tidak sekedar mengajarkan sesuatu ajaran demi untuk menyatakan suatu ajaran yang berbeda dengan dunia, karena Ia Tuhan dan bukan manusia.

Apa yang dinyatakan Tuhan Yesus adalah sebuah realita indah yang seringkali menjadi mimpi manusia. Manusia ingin jadi besar, ingin berkuasa, ingin memimpin. Namun manusia tidak mengerti bahwa kebesaran, kekuasaan dan kemimpinan adalah sebuah pelayanan. Karena itu Tuhan mengatakan: tentu, boleh saja, asal sedia jadi pelayan semua. Apakah ini sebuah ironi? Sebuah kontradiksi? Tidak sama sekali!

Mereka yang layak menjadi besar, yang layak menjadi penguasa, yang layak menjadi pemimpin, memang seharusnya menjadi pelayan semua. Menjadi besar berarti menjadi berkat bagi semua. Bukankah kebesaran seseorang dinilai dari berapa besar yang dia sudah kerjakan bagi banyak orang? Menjadi penguasa berarti diberi hak untuk mengusahakan kesejahteraan yang sebesar-besarnya. Bukankah penguasa dinilai dari berapa besar kuasanya digunakan untuk membuat orang banyak bersukacita dan mengalami sejahtera? Menjadi pemimpin berarti berkesempatan untuk memberikan teladan terindah. Bukankah pemimpin dihormati karena hidupnya dikorbankan untuk mengarahkan orang banyak kepada bijaksana kebenaran melalui contoh yang dinyatakan dalam setiap tindakannya?

Menjadi terbesar berarti menjadi pelayan bagi semua bukan ironi, bukan kontradiksi apalagi basa basi. Menjadi pelayan bagi semua adalah bukti kebesaran dan keagungan diri. Sang Khalik yang datang menjadi manusia menyatakan pengajaranNya ini dalam kehidupanNya yang menggenapi seluruh ucapanNya sendiri.

Besok Pemilu Legislatif akan diselenggarakan. Segenap rakyat berharap bahwa ada pemimpin sejati. Tapi sekali lagi, jangan mimpi hal itu dapat terjadi. Hanya mereka yang mau belajar pada Pemimpin Sejati, Sang Khalik Langit dan Bumi, yang dapat memenuhi aspirasi rakyat ini.
Namun apakah keadaan Indonesia saat ini kemudian membuat kita putus asa dan membawa kepada penyesalan diri karena terlahir sebagai putra bangsa?

Saat menjelang Pemilu Legislatif, adalah saat di mana pula kita mempersiapkan hati, mengenang kembali bagaimana Sang Khalik menunjukkan diri sebagai Pemimpin Sejati. Ia telah menggenapi perkataanNya dengan perbuatan indah tak terkira: memberikan hidupNya untuk menebus kita yang ditawan oleh kebengisan dosa. Bahkan lebih dari itu, Ia bangkit dari antara orang mati, untuk memberikan kita kuasa menjadi pemimpin-pemimpin sejati, menjadi pelayan-pelayan Tuhan dan sesama.

Mari kita sekali lagi datang di bawah kakiNya. Mengakui hanya Dia pemimpin sejati. Meminta Dia membangkitkan pemimpin-pemimpin sejati bagi negeri, karena hanya Dia yang dapat melakukannya.

Soli Deo Gloria.