Wednesday, August 28, 2013

RENAISSANCE



RENAISSANCE
Renaisans atau kelahiran kembali (rebirth) adalah sebuah periode yang membawa Eropa kepada kebangkitan kebudayaan setelah mengalami masa stagnasi. Sebuah pendapat, mengaitkan kemunculan Renaisans dengan kejatuhan Konstantinopel tahun 1453. Sejak keruntuhan Romawi Barat, Konstantinopel menjadi pusat kebudayaan Kristen. Tetapi waktu Turki Ottoman merebut kota ini, banyak ilmuwan dan ahli-ahli Grika yang mengungsi ke Eropa khususnya Italia. Mereka melarikan diri karena ingin menyelamatkan manuskrip klasik mereka yang berharga itu.
Untuk dapat bertahan hidup dalam pengungsian, mereka mengajarkan teori-teori klasik kepada ilmuwan Eropa sekalgus membagikan kemampuan berbahasa Yunani. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa untuk kemudian kembali kepada teks-teks kuno tersebut.
Tentu saja peristiwa di atas tidak cukup untuk mendorong munculnya gerakan kebudayaan Renaisans. Kejenuhan kepada konteks Abad Pertengahan menjadi pendorong utama masyarakat Eropa masuk ke dalam Renaisans. Apa yang menjadi penyebab kejenuhan Masa itu? Penekanan sisi kehidupan hanya pada satu aspek. Yesus Kristus menjanjikan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10b). Gereja Abad Pertengahan membatasi hidup kekristenan dan masyarakat umum kepada satu aspek yang sempit, yaitu nasib di akhirat. Itupun dalam pengajaran dan pengertian yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Manusia Abad Pertengahan ditarik untuk mengabaikan kemanusiaan mereka.
Tidaklah mengherankan jika kehadiran Renaisans mendapat sambutan luar biasa. Karena salah satu esensi dari semangat Renaisans adalah pandangan bahwa manusia tidak hanya memikirkan hidup di dunia yang akan datang, tetapi juga harus memikirkan hidup di dunia yang sekarang ini. Renaisans menjadi titik awal dari kemunculan peradaban Eropa yang modern.
Semangat humanisme menjadi dasar gerakan Renaisans. Hal ini terlihat dalam pengajaran filsafat masa ini, dalam karya literatur yang diterbitkan, dalam karya seni dan arsitektur yang dibuat, bahkan dalam sistem sosial-politik yang dibangun. Manusia seperti menemukan kembali dirinya dalam semangat Renaisans. Benarkah demikian?
Bapak Gereja, Agustinus mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk Sang Pencipta. Jika tidak kembali kepada tujuan sang Pencipta, maka jiwa manusia akan terus ada dalam kegelisahan yang tak berkeputusan. Tokoh reformator, John Calvin, melontarkan satu prinsip hidup yang penting: Duplex Cognito Dei. Mengenal Allah, mengenal diri. Dengan mengenal Allah, kita mengenal diri kita. Inilah hidup yang utuh. Hidup yang sesungguhnya.
Sejarah Abad Pertengahan menunjukkan kegagalan memanusiakan manusia. Sejarah Renaisans yang membuat manusia menemukan kemampuan dirinya, gagal membuat manusia mengenali Sang Pencipta yang telah menjadikannya. Kembali kepada Kitab Suci, Sola Scriptura, salah satu slogan Reformasi, membawa manusia menjadi manusia sejati ketika kembali kepada Sang Pencipta.
Ke mana orientasi hidup yang sekarang sedang pembaca jalani? Seperti semangat Abad Pertengahan? Renaisans? Atau Reformasi? 

(Dimuat di Pillar, Juni 2013)

Friday, August 23, 2013

40 Years of Silence



40 Years of Silence
“Those who don’t remember the past are condemned to repeat it”, demikian kalimat pembuka Robert Lemelson, sang sutradara film 40 Years of Silence, an Indonesian Tragedy dalam situs resmi film ini. Ucapan di atas adalah ungkapan dari George Santyana yang dikutip oleh Lemelson sebagai penanda dari tujuan pembuatan film tersebut. Anda tentu bertanya-tanya tentang apakah film tersebut, meski dari judulnya sendiri sedikit banyak kita dapat memperkirakannya.
Lemelson, antropolog Amerika, membuat 40 Years of Silence sebagai sebuah film dokumenter yang ingin menyibakkan satu bagian tergelap dari sejarah modern Indonesia, Peristiwa G30S. Peristiwa ini adalah salah satu pembunuhan massal abad ke-20 yang masih belum terungkap. Diperkirakan sekitar 500.000 sampai 1.000.000 orang dibunuh secara diam-diam dan sistematis dalam tahun 1965-1966 karena dicurigai sebagai komunis di seluruh Indonesia.
Film sejarah yang berbentuk narasi ini menceritakan kesaksian dari pihak korban. Lemelson sangat piawai dalam melakukan penggalian saksi sejarah tentang perasaan,  jiwa serta tekanan-tekanan batin yang mereka alami. Lewat narasi yang dituturkan, apa yang selama ini disembunyikan, diabaikan dan ditindas oleh sejarah mainstream, menyeruak ke permukaan. Pergulatan dan luka batin yang dirasakan para korban stigma komunis digali sang sutradara dengan sangat baik lewat wawancara yang tampak sederhana tapi mendalam dan tajam. Maka apa yang tampil nyata adalah ekspresi para korban yang melampui kalimat-kalimat yang dapat mereka ucapkan. Kita yang menontonnya pun akan terhenyak. Betapa kejamnya mereka yang menindas kebenaran!
Seorang mahasiswa sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Agus Budi Purwaranto mengulas film ini dengan sangat baik. Ia berpendapat bahwa kehadiran film ini adalah pertama-tama untuk membuat sejarah menjadi “wajar.” Langkah berikutnya tentu saja adalah melakukan usaha rekonsiliasi bangsa. Mirip dengan kutipan Lemelson atas ucapan Santyana di atas. Entah mengapa semua ini mengingatkan pada kalimat-kalimat rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Silahkan membuka Efesus 2:1-10.
Dalam perikop tersebut Paulus mengajak jemaat Efesus melihat masa lalu mereka, sejarah hidup mereka sebelum berada dalam Kristus dan kemudian membandingkannya dengan sesudah berada Kristus. Sejarah hidup jemaat Efesus awalnya seperti zombie yang dikuasai oleh tiga kekuatan jahat. Bahkan ‘hidup’ mereka terpuruk dalam kenistaan yang dalam, menjadi obyek murka Allah. Jikalau Anda menonton film tadi, anda akan melihat bukan hanya para korban tetapi juga anak-anak mereka ikut menjadi obyek murka penguasa bahkan masyarakat umum yang menelan mentah-mentah stigma eks-tahanan politik (ET).
Kita adalah orang-orang yang sangat beruntung bahkan terlalu beruntung. Sejarah hidup kita yang begitu kelam dan semua stigma yang buruk akibat dosa-dosa kita telah dipakukan di salib Kristus. Lewat penderitaan dan kematian Kristus, keadilan Tuhan ditegakkan dan relasi kita dengan Allah dipulihkan. Kristus merekonsiliasi kita dengan Bapa. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukannya untuk para ET? Bukankah kita dipanggil sebagai alat rekonsiliasi Kristus?

Thursday, August 1, 2013

Jadi Orang!



Jadi Orang!
Pernah mendengar orang tua zaman dulu berkata: “Kamu nanti harus jadi orang!” Anak yang berani dan usil akan mempertanyakan pernyataan itu: “Maksudnya sekarang ini saya bukan orang? Sejenis kera begitu?” Anak yang takut dianggap durhaka dan bersikap pasif, tentu saja hanya bisa menguji pernyataan itu dalam batin saja. Tetapi secara umum kebanyakan diantara kita mengerti apa yang dimaksudkan.
Ada semacam keyakinan umum bahwa seseorang dianggap sudah menjadi orang sungguhan jikalau ia sudah mendapatkan sebuah pencapaian tertentu. Di era sebelum baby boomers, konsep ‘menjadi orang’ memiliki sedikit perbedaan dengan zaman media digital dewasa ini. Pada masa itu pencapaian seseorang tidak selalu diukur dengan uang. Dedikasi terhadap sebuah pekerjaan yang melayani kebutuhan dasar masyarakat juga dihargai tinggi. Sekarang ini ‘menjadi orang’ berarti dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, ditambah kebutuhan sekunder dan tertier. Dengan kata lain, tolak ukur ‘menjadi orang’ adalah uang!
Saat saya kuliah, salah satu hal yang diajarkan dalam Pancasila adalah menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. Sayangnya, frase ini diajarkan tanpa pemahaman yang jelas karena konsep itu memang tidak pernah tuntas dipelajari oleh para pengatur negeri ini.
Harapan orang tua zaman dulu yang mengharapkan anaknya jadi orang, tentu saja tidak sepenuhnya salah. Karena menjadi orang memang merupakan panggilan dasar hidup kita. Bukankah Adam jatuh dalam dosa karena gagal menjadi orang?
Menurut Alkitab yang adalah firman Tuhan (yang tidak mungkin salah dan tidak bisa salah), manusia adalah gambar Allah (image of God). Maka, menjadi manusia berarti menyatakan segala kebaikan karakter Allah dalam berbagai ekspresi serta keunikan yang kita miliki. Sayangnya, di dalam Adam, kita semua gagal menjadi orang! Kita semua ingin menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita menolak hakekat sejati kita, yakni menjadi orang. Kita menolak diri kita sendiri dan sudah tentu di atas segalanya, kita menolak Pencipta kita karena kita adalah gambar-Nya.
Hanya karena anugerah, titik. Maksudnya? Maksudnya adalah tidak akan pernah dapat dipahami mengapa Yesus Kristus mau menjadi manusia. Mengapa Ia mau mati menanggung dosa saudara dan saya. Mengapa Dia mau menjadi gambar dan rupa Allah yang sejati. Dan sejumlah mengapa yang lain masih dapat kita tambahkan. Tetapi satu hal yang patut kita pertimbangkan dengan serius adalah menjadi orang merupakan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Karena menjadi orang berarti saudara dan saya belajar hidup seperti Yesus Kristus. Untuk dapat belajar hidup seperti Yesus Kristus, saudara dan saya perlu dilahirkan kembali, menjadi manusia yang sebenarnya. Kita sudah pernah gagal menjadi manusia. Hanya di dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru, menjadi mahakarya Allah, menjadi gambar-Nya, menjadi manusia.
Apakah Anda sudah menjadi orang? Kalau iya, apakah seluruh hidup saudara diletakkan di bawah ke-Tuhan-an Yesus Kristus? Apakah setiap keputusan atas setiap aspek kehidupan saudara setiap harinya sesuai dengan firman Yesus Kristus? Belajarlah menjadi orang!

Dimuat di Pillar, Juli 2013

PSEUDO



PSEUDO
Di sesi penutupan retret guru Sekolah Kristen Calvin (SKC), Pdt. Ivan Kristiono menyinggung tentang istilah pseudo wisdom atau hikmat palsu. Sejak itu istilah pseudo sering bergema dalam benak saya. Apa arti pseudo? Istilah dari bahasa Yunani ini dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang salah, palsu atau berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya (menipu). Lalu mengapa ada pseudo?
Manusia secara lahiriah menyukai kepalsuan. Apalagi di era media dan teknologi digital dewasa ini. Apa saja kalau perlu dipalsukan. Mulai dari hidung palsu, arloji, tas dan berbagai barang bermerek lainnya dengan berbagai tingkat kelihaian memalsukannya (ada KW1 sampai entah KW berapa) hingga berita palsu (hoax). Tetapi istilah pseudo sebenarnya lebih tepat dilekatkan dengan konsep atau ide seperti ilmu palsu (pseudo science), realita palsu (pseudo-reality) sampai ilah palsu (Roma 1:25). Luar biasa, bukan? Kita dapat menemukan segala jenis kepalsuan dalam hidup ini. Mulai dari barang, pengetahuan, sampai hikmat dan Tuhan.
Sekitar 3000 tahun yang lalu, Salomo pernah berbicara mengenai hikmat sejati dan hikmat palsu. Tetapi jauh sebelum itu, Iblis, si ular tua lebih dulu menawarkan kepalsuan yang awal, akar dari segala kepalsuan, pada manusia pertama, Adam dan Hawa. Apakah kepalsuan yang paling dasar itu? Menyatakan yang benar sebagai yang salah! Hal pertama apa yang dipalsukannya? Pasti hanya satu kemungkinan yaitu firman Allah. Kenapa firman Allah? Karena itulah kebenaran dan satu-satunya kebenaran. Karena jika ada banyak kebenaran, tentulah si ular tua akan kebingungan untuk memalsukan hal yang mana untuk menipu Hawa. Hal ini sekaligus menunjukkan pula kemampuannya satu-satunya yaitu memalsukan. Sedangkan kemampuan manusia yang  paling mendasar yaitu meniru tidak lagi dipakai untuk meniru yang benar tetapi yang salah. Itu sebabnya, Firman Tuhan menuntut kita yang sudah menjadi mahakarya Allah di dalam Yesus Kristus, untuk meniru Tuhan (Efesus 5:1). Meniru Tuhan berarti mengikuti tiap perintah dan pimpinan-Nya, karena Dia-lah Tuan dan Raja satu-satunya atas hidup kita.
Dalam hidup Anda sebagai orang Kristen, apa yang menjadi pergumulan doa saudara? Apakah spiritual discernment untuk membedakan yang sejati dengan yang palsu merupakan salah satu hal yang terus diminta kepada Tuhan? Berdoalah juga untuk zaman ini, zaman di mana kita ada, supaya belajar mengenal Kebenaran!
SDG.

Dimuat di Pillar, Agustus 2013