Friday, July 27, 2012

Indonesia


Indonesia
Apa arti Indonesia bagi anda? Sesuatu yang selama ini anda terima begitu saja atau anda mulai memikirkan keindonesiaan anda karena adanya goncangan-goncangan yang belakangan menghantam negara ini? Sama seperti kita seringkali menerima begitu saja kekristenan kita sampai kemudian sejumlah masalah menggugat iman kita. Coba anda mengambil sejenak waktu untuk memikirkan pertanyaan saya tadi.
Sengaja saya mengangkat topik ini karena sebentar lagi kita akan kembali merayakan hari kemerdekaan negeri tercinta ini. Secara pribadi saya sedang berminat dengan soal geografis Indonesia, karena itu saya ingin mengajak pembaca untuk memikirkan keindonesiaan kita  dari perspektif ini.
Sebuah artikel di Kompas menyebutkan ada 13.446 pulau di Indonesia. Dengan jumlah pulau demikian banyak, tidak heran Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Pulau-pulau yang berada di garis katulistiwa tersebut pasti terletak di antara lautan bukan? Lalu pernahkan  anda memikirkan konsekuensi logisnya? Apa yang anda bisa dapatkan di lautan luas yang mengelilingi belasan ribu pulau tersebut? Dua di antaranya adalah fakta bahwa Indonesia memiliki wilayah terumbu karang terluas di dunia. Terumbu karang menjadi tempat bagi ikan laut dan sumber makanan ikan. Fakta lain adalah kekayaan laut di Samudra Hindia yang belakangan ini menarik para peneliti asing untuk datang menggali potensi gas dan minyak bumi yang diperkirakan banyak terdapat di sana.
Selain di dalam lautan, di belasan ribu pulau yang menghampar bak mutiara, anda juga dapat membuat daftar mengenai fakta kekayaan tanah air kita. Salah satu di antaranya adalah kekayaan budaya dan sejarah lewat peninggalan benteng. Saya sangat terkesan dengan informasi Kompas tanggal 28 Mei 2011 yang menyebutkan adanya 442 benteng di Indonesia. Benteng ini terdiri dari benteng Nusantara (yang didirikan oleh kerajaan-kerajaan Indonesia), lalu benteng kolonial dan benteng peninggalan Perang Dunia II. Bahkan satu benteng yaitu Benteng Keraton Wolio di pulau Buton, konon disebut sebagai benteng terbesar di dunia. Jika mau diteliti dengan baik, kita dapat menemukan kekayaan budaya dan sejarah yang tak ada habisnya dari benteng-bentent tersebut. Anda tentu saja masih dapat menambah fakta-fakta lainnya yang membuat kita mengerti mengapa Indonesia berada di urutan ketiga negara paling berlimpah sumber daya. Tetapi di mana orang-orang Indonesia yang mengerti dan menghargai kekayaan Indonesia yang luar biasa ini?
Pendeta Stephen Tong pernah mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam wadah ruang dan waktu. Ruang yang diberikan bagi kita adalah dunia ini atau tepatnya bumi ini. Lebih khusus lagi, ruang yang diberikan secara geografis bagi kita adalah tanah air Indonesia. Saya percaya kita tidak bisa menentukan pilihan untuk lahir sebagai bangsa Indonesia bukan? Dengan kata lain pilihan menjadi bangsa Indonesia bukan pilihan kita tetapi ditetapkan dari sononya. Jika menjadi bangsa Indonesia sudah ditetapkan bagi kita, konsekuensi logisnya adalah berespon sejatinya umat Tuhan yang lahir di Indonesia. Jadi, bagaimana respon anda sejauh ini?
Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dimuat di Buletin Pillar Agustus 2011

A Tale of Two Cities


A Tale of Two Cities
Tahun ini dunia literatur merayakan 200 tahun kelahiran pengarang terbesar Inggris di era Ratu Victoria, Charles Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Jadi judul di atas memang adalah salah satu karya terbaik sastrawan besar tersebut. Ulasan majalah Tempo 25 Maret 2012 tentang Dickens dan karya-karyanya, membuat ketertarikan saya akan novel A Tale of Two Cities muncul kembali.
It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness …
Demikian pembukaan novel tersebut, penuh dengan paradoks kehidupan. Kisah novel ini pun sangat menggugah jiwa. Ini adalah salah satu novel Dickens yang paling tragis dan mengandung banyak simbol. Mengambil latar belakang Revolusi Perancis dengan setting dua kota dunia yang sedang bergolak saat itu, Paris dan London, Dickens mengetengahkan dua tokoh utamanya yaitu Charles Darnay dan Sydney Carton.
Charles Darnay, adalah seorang keturunan bangsawan Perancis yang menolak nama keluarganya berikut warisannya lalu melarikan diri ke Inggris. Darnay malu dan benci pada nama keluarganya yang dihujat seluruh Perancis. Sedangkan Sydney Carton adalah pria Inggris yang cerdas tetapi apatis yang menyia-nyiakan hidupnya dengan alkohol. Carton mencintai Lucie Manette dengan seluruh jiwa raganya, namun Lucie lebih memilih cinta Darnay. Akan tetapi karena cintanya yang kelewat besar, Carton berjanji pada Lucie akan melakukan apa saja untuknya, termasuk memberikan nyawanya. Singkat cerita, hal itulah yang kemudian dilakukan Carton untuk Lucie. Saat Darnay akan dihukum guillotine, Carton menggantikannya, karena mereka berdua memang mirip.
Lewat kematiannya, Carton menebus kesalahan-kesalahan dan kesia-siaan hidupnya dengan  bangkit kembali lewat namanya yang digunakan oleh Darnay. Carton mewakili sikap mulia seseorang yang rela mati bagi sahabatnya. Sedangkan Darnay menampakkan sikap yang seharusnya dipunyai kaum aristokrat yaitu menyatakan keadilan dan melindungi yang lemah. Dengan kata lain, Carton dan Darnay ingin melakukan penebusan atas masa lalu ataupun latar belakang mereka yang kelam.
Kisah novel ini mengingatkan pada Paskah yang baru dirayakan bulan lalu. Melalui Paskah kita mengenang satu Pribadi yang benar dan suci yang mengorbankan diriNya untuk kehidupan orang berdosa. Paskah menyatakan keadilan Tuhan yang harus ditegakkan sekaligus ungkapan cinta kasih yang tak berkesudahan. Lewat Paskah, kehidupan kelam kita sungguh ditebusNya. Lewat Paskah, kita dipersatukan dengan Pribadi yang teramat mencintai kita. Lewat Paskah, ada kebangkitan dan kehidupan baru. Tetapi sungguhkah hal itu terjadi dalam kehidupan anda? Jika ya, apakah hal itu makin terpancar melalui kehidupan anda?

Dimuat dalam Buletin Pillar Mei 2012