Sunday, November 30, 2008

The Wallmart Tragedy

Seorang teman, mungkin dengan gemas, meminta saya membaca berita dari situs USA Today. Inilah potongan beritanya:
"A Wal-Mart worker was killed Friday when "out-of-control" shoppers desperate for bargains broke down the doors at a 5 a.m. sale. Other workers were trampled as they tried to rescue the man, and customers shouted angrily and kept shopping when store officials said they were closing because of the death, police and witnesses said."

Oh ya, peristiwa ini terjadi dalam rangka Thanksgiving ...

Reaksi saya setelah membaca berita itu? Wajar! Ooopsss!!!
Saya tidak sedang tidak berperasaan dan sadis. Tetapi inilah buah dari modernisme yang mengusung kemajuan lewat kapitalisme liberal. Tetapi kemudian modernisme ini digeret lebih jauh oleh postmodernisme ketika kemajuan yang diusung modernisme gagal mewujudkan negeri impian. Itu sebabnya peristiwa di atas menjadi 'alami'. Lho, maksudnya opo tokh rek?

Maksudnya begini: Wells dalam buku All Above Earthly Pow'rs melihat hal yang sudah dilihat lebih dulu oleh Baudrillard dalam buku The Consumer Society yaitu: masyarakat modern yang individualis itu masuk dalam budaya konsumerisme yang menjadikan desire sebagai satu-satunya norma. Ketika dibiarkan, desire ini menjadi sebuah endless and unbroken chain. Rantai kemudian diteguhkan oleh kedatangan posmodernisme yang meninggikan emosi dan rasa ketimbang rasio yang merupakan tuhannya modernisme.

Maka ketika peristiwa di atas terjadi dalam masyarakat Barat yang sedang meninggalkan modern (rasio), dikusai oleh rantai keinginan, memasuki dunia posmodernisme yang memanjakan emosi, ya peristiwa di atas jadi wajar bukan. Itu memang buahnya!

Tragis? Sangat. Berduka untuk kematian penjaga Wallmart? Pasti!
Namun peristiwa di atas membuat saya merenung dan melihat betapa kita makin tidak utuh sebagai manusia. Terpecah-pecah seperti confetti. Namun tokh kita merayakannya.
Inilah fakta mengerikan hidup manusia.

Menjelang Natal ini, kita diingatkan akan kedatangan Kristus, Tuhan yang menjadi manusia, agar kita mengerti fitrah sejati kita.

Immanuel.

No comments: