Jadi Orang!
Pernah mendengar orang tua zaman dulu
berkata: “Kamu nanti harus jadi orang!” Anak yang berani dan usil akan
mempertanyakan pernyataan itu: “Maksudnya sekarang ini saya bukan orang?
Sejenis kera begitu?” Anak yang takut dianggap durhaka dan bersikap pasif,
tentu saja hanya bisa menguji pernyataan itu dalam batin saja. Tetapi secara
umum kebanyakan diantara kita mengerti apa yang dimaksudkan.
Ada semacam keyakinan umum bahwa
seseorang dianggap sudah menjadi orang sungguhan jikalau ia sudah mendapatkan
sebuah pencapaian tertentu. Di era sebelum baby
boomers, konsep ‘menjadi orang’ memiliki sedikit perbedaan dengan zaman
media digital dewasa ini. Pada masa itu pencapaian seseorang tidak selalu
diukur dengan uang. Dedikasi terhadap sebuah pekerjaan yang melayani kebutuhan
dasar masyarakat juga dihargai tinggi. Sekarang ini ‘menjadi orang’ berarti
dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, ditambah kebutuhan sekunder
dan tertier. Dengan kata lain, tolak ukur ‘menjadi orang’ adalah uang!
Saat saya kuliah, salah satu hal yang
diajarkan dalam Pancasila adalah menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya.
Sayangnya, frase ini diajarkan tanpa pemahaman yang jelas karena konsep itu
memang tidak pernah tuntas dipelajari oleh para pengatur negeri ini.
Harapan orang tua zaman dulu yang
mengharapkan anaknya jadi orang, tentu saja tidak sepenuhnya salah. Karena
menjadi orang memang merupakan panggilan dasar hidup kita. Bukankah Adam jatuh
dalam dosa karena gagal menjadi orang?
Menurut Alkitab yang adalah firman
Tuhan (yang tidak mungkin salah dan tidak bisa salah), manusia adalah gambar
Allah (image of God). Maka, menjadi manusia
berarti menyatakan segala kebaikan karakter Allah dalam berbagai ekspresi serta
keunikan yang kita miliki. Sayangnya, di dalam Adam, kita semua gagal menjadi
orang! Kita semua ingin menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita menolak hakekat
sejati kita, yakni menjadi orang. Kita menolak diri kita sendiri dan sudah
tentu di atas segalanya, kita menolak Pencipta kita karena kita adalah gambar-Nya.
Hanya karena anugerah, titik.
Maksudnya? Maksudnya adalah tidak akan pernah dapat dipahami mengapa Yesus
Kristus mau menjadi manusia. Mengapa Ia mau mati menanggung dosa saudara dan
saya. Mengapa Dia mau menjadi gambar dan rupa Allah yang sejati. Dan sejumlah
mengapa yang lain masih dapat kita tambahkan. Tetapi satu hal yang patut kita
pertimbangkan dengan serius adalah menjadi orang merupakan hal yang paling
berharga dalam hidup ini. Karena menjadi orang berarti saudara dan saya belajar
hidup seperti Yesus Kristus. Untuk dapat belajar hidup seperti Yesus Kristus,
saudara dan saya perlu dilahirkan kembali, menjadi manusia yang sebenarnya. Kita
sudah pernah gagal menjadi manusia. Hanya di dalam Kristus, kita menjadi
ciptaan baru, menjadi mahakarya Allah, menjadi gambar-Nya, menjadi manusia.
Apakah Anda sudah menjadi orang?
Kalau iya, apakah seluruh hidup saudara diletakkan di bawah ke-Tuhan-an Yesus
Kristus? Apakah setiap keputusan atas setiap aspek kehidupan saudara setiap
harinya sesuai dengan firman Yesus Kristus? Belajarlah menjadi orang!
Dimuat di Pillar, Juli 2013
No comments:
Post a Comment