Thursday, August 1, 2013

Jadi Orang!



Jadi Orang!
Pernah mendengar orang tua zaman dulu berkata: “Kamu nanti harus jadi orang!” Anak yang berani dan usil akan mempertanyakan pernyataan itu: “Maksudnya sekarang ini saya bukan orang? Sejenis kera begitu?” Anak yang takut dianggap durhaka dan bersikap pasif, tentu saja hanya bisa menguji pernyataan itu dalam batin saja. Tetapi secara umum kebanyakan diantara kita mengerti apa yang dimaksudkan.
Ada semacam keyakinan umum bahwa seseorang dianggap sudah menjadi orang sungguhan jikalau ia sudah mendapatkan sebuah pencapaian tertentu. Di era sebelum baby boomers, konsep ‘menjadi orang’ memiliki sedikit perbedaan dengan zaman media digital dewasa ini. Pada masa itu pencapaian seseorang tidak selalu diukur dengan uang. Dedikasi terhadap sebuah pekerjaan yang melayani kebutuhan dasar masyarakat juga dihargai tinggi. Sekarang ini ‘menjadi orang’ berarti dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, ditambah kebutuhan sekunder dan tertier. Dengan kata lain, tolak ukur ‘menjadi orang’ adalah uang!
Saat saya kuliah, salah satu hal yang diajarkan dalam Pancasila adalah menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. Sayangnya, frase ini diajarkan tanpa pemahaman yang jelas karena konsep itu memang tidak pernah tuntas dipelajari oleh para pengatur negeri ini.
Harapan orang tua zaman dulu yang mengharapkan anaknya jadi orang, tentu saja tidak sepenuhnya salah. Karena menjadi orang memang merupakan panggilan dasar hidup kita. Bukankah Adam jatuh dalam dosa karena gagal menjadi orang?
Menurut Alkitab yang adalah firman Tuhan (yang tidak mungkin salah dan tidak bisa salah), manusia adalah gambar Allah (image of God). Maka, menjadi manusia berarti menyatakan segala kebaikan karakter Allah dalam berbagai ekspresi serta keunikan yang kita miliki. Sayangnya, di dalam Adam, kita semua gagal menjadi orang! Kita semua ingin menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita menolak hakekat sejati kita, yakni menjadi orang. Kita menolak diri kita sendiri dan sudah tentu di atas segalanya, kita menolak Pencipta kita karena kita adalah gambar-Nya.
Hanya karena anugerah, titik. Maksudnya? Maksudnya adalah tidak akan pernah dapat dipahami mengapa Yesus Kristus mau menjadi manusia. Mengapa Ia mau mati menanggung dosa saudara dan saya. Mengapa Dia mau menjadi gambar dan rupa Allah yang sejati. Dan sejumlah mengapa yang lain masih dapat kita tambahkan. Tetapi satu hal yang patut kita pertimbangkan dengan serius adalah menjadi orang merupakan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Karena menjadi orang berarti saudara dan saya belajar hidup seperti Yesus Kristus. Untuk dapat belajar hidup seperti Yesus Kristus, saudara dan saya perlu dilahirkan kembali, menjadi manusia yang sebenarnya. Kita sudah pernah gagal menjadi manusia. Hanya di dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru, menjadi mahakarya Allah, menjadi gambar-Nya, menjadi manusia.
Apakah Anda sudah menjadi orang? Kalau iya, apakah seluruh hidup saudara diletakkan di bawah ke-Tuhan-an Yesus Kristus? Apakah setiap keputusan atas setiap aspek kehidupan saudara setiap harinya sesuai dengan firman Yesus Kristus? Belajarlah menjadi orang!

Dimuat di Pillar, Juli 2013

No comments: