Ada sebuah ‘teka-teki’ yang
bunyinya begini: Apakah yang lebih
berharga daripada emas, bahkan daripada banyak emas murni; dan lebih manis
daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah?*
Kalau saya mengajukan ‘teka-teki’
di atas, apakah jawabanmu? Mungkin setiap kita dapat menjawab sesuai dengan apa
yang kita rasakan. Tetapi memberi jawaban yang benar? ‘Teka-teki’ di atas
adalah ungkapan hati yang indah dari Daud ketika ia menggambarkan hukum Tuhan,
ketetapan Tuhan, Firman Tuhan. Berapa banyak dari kita yang berbagian dan
mengalami apa yang Daud katakan?
Emas adalah sesuatu yang berharga
dan dijadikan patokan dalam ekonomi dunia. Sedang emas murni atau emas tua
adalah emas terbaik yang bernilai tinggi yang banyak diburu orang. Untuk
mendapatkan emas orang harus berusaha keras dan berjerih lelah. Berapa banyak
orang percaya yang mengejar kebenaran Firman Tuhan seperti memburu emas? Berapa
banyak orang tebusan yang menganggap Firman Tuhan lebih berharga dari emas bahkan
banyak emas tua?
Madu adalah sesuatu yang manis,
bergizi tinggi dan tidak menyebabkan diabetes. Rasanya yang manis membuatnya disukai
banyak orang. Tetapi madu terbaik tentu saja madu yang menetes dari sarang
lebah, murni, tanpa campuran dan alami. Untuk memperoleh
madu seperti ini dibutuhkan kerja keras dan usaha yang besar. Berapa banyak
orang yang mengaku Kristen merasakan Firman Tuhan lebih manis dari tetesan madu terbaik? Berapa banyak orang tebusan
yang berusaha keras untuk mendapatkan Firman Tuhan yang memiliki khasiat yang
lebih baik dari madu hutan?
Dengan sangat yakin saya akan
menjawabnya sendiri: Sedikit sekali. Sedikit sekali orang percaya yang menilai
Firman Tuhan seperti atau lebih dari emas tua, seperti sama sedikitnya orang
Kristen yang merasakan Firman Tuhan lebih dari madu yang menetes dari sarang
lebah sehingga ingin terus mencicipinya. Inilah keunikan Daud. Dengan posisinya
sebagai raja dari umat pilihan Tuhan, ia memiliki banyak harta dan hak
istimewa. Tetapi baginya, tidak ada yang lebih bernilai dan memberi manfaat
melebihi Firman Tuhan.
Apakah Firman Tuhan itu? Firman
Tuhan adalah segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah yang tertulis di dalam
Kitab Suci (2 Tim 3:16-17). Seluruh Firman Tuhan yang tertulis dinyatakan dalam
Alkitab. Adakah Firman Tuhan yang tidak tertulis? Ada. Di mana? Tidak tahu dan tidak perlu tahu
(Ul 29:29). Firman Tuhan yang perlu kita ketahui semua sudah tertulis di dalam
Alkitab.
Dengan demikian Alkitab menjadi
hal yang sentral dalam kehidupan orang percaya karena Allah berbicara kepada
kita melaluinya. Itu sebabnya pemberitaan Firman melalui kotbah harus menjadi
titik berat ibadah Minggu dan mempelajari Firman Tuhan setiap hari merupakan
hal yang mendasar bagi kehidupan
seorang Kristen. Jika kita berbicara kepada Tuhan melalui doa, maka Tuhan
berbicara kepada kita melalui firmanNya yang tertulis dalam Alkitab. Roh Kudus
bekerja melalui perantaraan Firman, karena iman timbul dari pendengaran akan
Firman Tuhan.
Westminster Shorter Catechism mengatakan tujuan utama hidup manusia adalah untuk
memuliakan dan menikmati Allah selamanya. Kita sebagai manusia ciptaan tidak
mungkin dapat mengetahui bagaimana memuliakan dan menyenangkan Allah jika bukan
Allah sendiri yang memberitahukan kepada kita. Maka Allah yang Maha Besar perlu
memberitahu kita bagaimana kita dapat memuliakan Dia. Apa yang Ia ingin kita
lakukan yang menyenangkan hatiNya. Apa yang harus kita hindari dan tidak
lakukan untuk menyukakanNya. Melalui pembelajaran Kitab Suci kita tahu
bagaimana melakukan semua hal itu.
Di atas telah disinggung bahwa
sedikit sekali orang percaya yang mencintai dan bertekun dalam kebenaran Firman
Tuhan. Ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam kekristenan, ketika orang
Kristen tidak sungguh mencintai dan menikmati Firman Tuhan.
Jika kita membalik sejarah
kekristenan, kita akan melihat skandal serupa ini pernah terjadi. Sekitar abad pertengahan
ketika orang Kristen menjadi ‘tidak melek’ Alkitab, terjadi kekacauan dan
kesimpangsiuran dalam iman Kristen. Puji syukur, Tuhan tidak membiarkan
gerejaNya menyimpang terlalu jauh. Gerakan Reformasi dipakai untuk membawa
gereja kembali kepada kebenaran Firman Tuhan, Back to the Bible atau Sola
Scriptura. Inilah salah satu slogan
Reformasi yang diteriakkan dengan keras pada masa itu. Namun kelihatannya
manusia, termasuk orang Kristen, tidak terlalu suka belajar dari sejarah.
Gejala gereja dewasa ini mulai melakukan penyimpangan terhadap Kitab Suci mulai
jelas kelihatan. Orang percaya harus waspada terhadap hal ini dan melakukan tindakan
pencegahan. Bagaimana caranya? Dengan baik-baik mempelajari Firman Tuhan, memohon belas kasihan
Roh Kudus untuk menerangi hati kita dan bersikap ‘kritis’ terhadap pemberitaan Firman Tuhan sekalipun
yang memberitakan adalah hamba Tuhan sendiri (Lihat Kis 17:11 dan Gal 1:
8-10).
Mengapa Alkitab tidak boleh
dipermainkan atau diselewengkan? Karena Alkitab adalah Firman Allah yang
tertulis. Dikatakan dalam 2 Tim 3:16-17 ‘apa yang tertulis di dalam Kitab Suci
diilhamkan oleh Allah’. Dalam bahasa aslinya (Yunani) diilhamkan berarti ‘God breathed’ atau dinafaskan oleh
Allah, sehingga apa yang tertulis dalam Kitab Suci adalah hasil karya Allah
sendiri. Memang Allah memakai banyak manusia dari zaman dan kalangan yang berbeda – mulai dari
bekas pangeran, raja, petani, nelayan, dokter sampai pemungut cukai – untuk menuliskan
Alkitab, tetapi mereka semua digerakkan
oleh Roh Kudus (2 Pet 1:20-21). Maka Alkitab dengan sendirinya tidak mungkin salah (infallible) karena Allah tidak pernah
bersalah dan melakukan kesalahan.
Semua hal yang Allah ingin katakan
pada kita ada tertulis dalam Alkitab sehingga Alkitab disebut cukup atau sufficient. Apa artinya Alkitab cukup? Pertama, Alkitab cukup dalam mengatakan
semua hal yang Allah kehendaki bagi kita. Kedua,
Alkitab cukup dalam memimpin kita kepada keselamatan yang ada di dalam Kristus
dan bertumbuh mengenal Allah. Ketiga,
Alkitab cukup berarti tidak perlu ditambah atau dikurangi (Ul 4:2). Menambah
atau mengurangi isi Kitab Suci menjadi suatu penghinaan terhadap Allah yang
sempurna. Apalagi menyelewengkan dan menggunakan isi Alkitab dengan semena-mena
resikonya besar sekali karena Allah sendiri yang akan menjadi lawan mereka yang
melakukan hal demikian (Yer 23:31-32).
Semasa Sekolah Minggu, saya
mendengar cerita tentang doa Salomo yang meminta hikmat dari Tuhan. Karena
begitu terkesan, sayapun menginginkan hal yang sama. Tetapi dalam beberapa
tahun terakhir ini, kecintaan Daud yang begitu dalam akan firman Tuhan menjadi “obsesi” baru saya. Mengapa
Daud disebut sebagai orang yang berkenan kepada Allah, a man before God’s own heart? Karena ia mengerti isi hati Tuhan
lebih dari yang lain. Bagaimana bisa mengerti isi hati Tuhan? Dengan bertekun
menyelidiki Kitab Suci dan merenungkannya.
Dalam Mazmur 119 Daud mengatakan
ada tiga manfaat penting dari perintah-perintah Tuhan yakni membuat diri lebih
bijaksana dari musuh, lebih berakal budi dari semua pengajar dan lebih mengerti
dari orang tua (ayat 98-100). Namun sayang sekali
banyak orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran ini dan menikmati anugrah
ini. Mempelajari Firman Tuhan memang bukan hal yang gampang. Kita harus
bertekun menelitinya bahkan seringkali harus bergumul dengan kebenaran Firman
Tuhan. Rasul Paulus mengatakan bahwa Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar,
menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran.
Berapa banyak orang yang suka untuk diajar, diberitahu kesalahannya, diperbaiki
kelakuannya dan dididik dalam kebenaran? Ini hal yang sulit dan berat untuk
diterima, tetapi memberi faedah yang luar biasa: tahu bagaimana memiliki hidup
yang menyenangkan Tuhan yang telah mencipta dan menebus kita.
Semasa hidupnya (alm) ayah saya
memberikan pada saya dan keempat adik saya masing-masing sebuah Alkitab yang
diberi catatan pribadi. Karena sakit parah dan koma selama 8 bulan, ayah saya
tidak meninggalkan harta yang banyak kecuali sebuah rumah untuk berteduh. Namun
ia meninggalkan sebuah warisan yang
tidak ternilai yang tidak dapat layu, rusak atau dicuri: Kitab Suci. Saya
sangat bersyukur untuk warisan ini, suatu harta warisan yang indah dan tak
ternilai.
Apa yang menjadi hartamu? Apa
yang engkau hargai melebihi emas tua? Apa yang kau sukai dan nikmati melebihi
madu yang menetes dari sarang lebah?
Jika benar engkau mencintai
Firman Tuhan melebihi emas tua dan merasakannya lebih nikmat dari madu Tuhan,
pertanyaan berikutnya adalah apakah engkau telah membaca Kitab Suci dari
Kejadian sampai Wahyu? Seberapa sungguh dan teliti engkau membacanya? Berapa banyak Firman yang telah engkau
renungkan siang dan malam? Dan akhirnya
yang
terpenting adalah berapa besar usaha kita untuk menaatinya?
Untuk mendapatkan emas tua atau
madu hutan manusia harus berjerih lelah. Namun emas tidak dapat dibawa mati dan
madu hutan hanya diperlukan selama hidup. Tetapi Firman Tuhan
membawa kita pada kekekalan. Berjanjilah pada Tuhan mulai
hari ini akan bertekun mempelajari FirmanNya.
Kiranya Tuhan menolong kita. Soli
Deo Glori.
*(Maz 19:11 terjemahan bebas dari NIV)

No comments:
Post a Comment